Selasa, 18 Maret 2014

YA ALLAH... LURUSKANLAH LISAN-ku




Bismillaahirrahmaanirrhiim

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS Ibrahim: 24-25)

“Dan perumpaan kalimat yang buruk itu seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.” (QS Ibrahim: 26)

Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad, dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shllallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Tidak akan lurus keimanan seorang hamba, sehingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus lidahnya.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadikan syarat lurusnya iman dengan lurus hati, kemudaian menjadikan lurusnya hati dengna lurusnya lisan.

Dalam kitab Sunan at-Tirmidzi, disebutkan suatu riwayatdari Ibnu Umar r.a., Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena banyak bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang-orang yagn terjauh dari Allah adalah yang berhati keras.”

Umar bin Khattab r.a. berkata, “barangsiapa banyak bicaranya, maka banyak kesalahannya, dan orang yang banyak salahnya berarti banyak dosanya, sehingga nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka.”

Di dalam suatu hadits dari Mu’adz, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Maukah kamu jika saya katakan kepadamu tentang sendi dari semua kebaikan itu?” Aku Mu’adz menjawab, “Tentu, ya Rasulullah.” Maka beliau menunjuk pada lidahnya, seraya berkata, “Jagalah ini!” Aku berkata, : “Ya Nabi Allah, apakah kami akan memperoleh siksa akibat ucapan kami?” “Betapa celakanya engkau wahai Mu’adz, bukankah orang-orang yang tersungkur ke dalam neraka itu, melainkan hasil menabur fitnah melalui lidah-lidah mereka, akhirnya menuai siksa-Nya?” (HR Tirmidzi dan Hakim)

Makna dari hadits tersebut ialah, bahwa ada hakikatnya manusia hidup di dunia ini menaburkan benih-benih kebaikan dan keburukan yang ditimbulkan ucapannya. Barangsiapa menanam kebaikan, berupa ucapan dan perbuatan, ia pun akan memanen kemuliaan, dan barang siapa yang menanam kejelekan, maka akan memanen kekecewaan.

Hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah menyebutkan :
“Yang paling banyak memasukkan manusia kedalam neraka adalah memalui dua lubang ; mulut dan farji (kemaluan).” (HR BUkhari dalam Al-Birru wash-Shilah)

Dalam sebuah riwayat diseritakan bahwa Uqbah bin ‘Amir berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallallahu Alaihi wa Sallam, “Ya Rasulullah, apakah keselamatan itu?” Beliau menajwab: “Jagalah lidahmu, luaskanlah rumahmu, dan menangislah atas kesalahan dan dosa-dosamu.” (HR Bukhari-Muslim)

Selanjutnya Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa yang dapat memberikan jaminan kepadaku untuk menjagasesuatu yang berada di antara kedua dagu (lisannya) dan kedua pahanya (kemaluannya), maka aku akan menjaminnya masuk surga.” (HR Bukhari)

Dan sabda Beliau dalam kedua kitab Shahih Bukhari-Muslim:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, hendaknya berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari)

Dari Ummu Habibah, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda:
“Semua ucapan manusia akan memberatinya, tidak meringankan baginya, kecuali amar ma’ruf nahi munkar dan dzikrullah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, tidak ada sesuatu yang paling penting untuk dikunci selama-lamanya selain lisanku ini.” Beliau pun pernah berkata, “Wahai lisanku, katakanlah yang baik, engkau akan beruntung. Jangan berkata buruk, engkau akan selamat. Ingatlah dan perhatikan itu, sebelum engkau menyesal.”

Sementara Ibnu Abbas r.a berkata, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah, “Sesungguhnya telah sampai keterangan kepadaku, bahwa tiada suatu anggota tubuh yang lebih memberati manusia di hari kiamat, selain lidahnya, kecuali bagi orang yang menggunakannya untuk mengatakan yang hak atau mengajarkan yang baik.”

Imam Hasan al-Bashri berkata, “Belum memahami agama, orang yang tidak menjaga lisannya.”

Bahaya terkecil yang ditimbulkan lidah adalah berkata-kata tentang sesuatu yang tidak bermanfaat (sia-sia) sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Diantara kebaikan agama (Islam) dari seseorang ialah apabila ia mau meninggalkan apa yagn tidak berguna baginya.” (HR Tirmidzi dan Ahmad)

Dari Abu ‘Ubaidah meriwayatkan, bahwa Hasan al-Bashri berkata, “Di antara penyebab berpalingnya Allah dari hamba-Nya yaitu, jika hamba-Nya suka menyibukkan diri dengan sesuatu yang sia-sia baginya; sebagai penghinaan Allah terhadapnya.”

Itulah bahaya lisan yang teringan. Bisa kita bayangkan alangkah berbahayanya ghibah, adu domba, ucapan batil, penghinaan, makian dan sebagainya. Semoga Allah menolong kita.

Ya Allah, luruskanlah lisanku….. luruskanlah lisanku…. Luruskanlah lisanku…. Aamiien.

Yang benar semata karena pertolongan Allah, yang salah semata karena kekhilafan saya, mohon dimaafkan dan semoga ampunan Allah senantiasa turun atasku.



Assalaamu'alaikum Wr.Wb

0 komentar:

Posting Komentar