Bismillaahirrahmaanirrhiim
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS Ibrahim: 24-25)
“Dan
perumpaan kalimat yang buruk itu seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut
dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.”
(QS Ibrahim: 26)
Disebutkan
dalam musnad Imam Ahmad, dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shllallahu
Alaihi wa Sallam bersabda:
“Tidak
akan lurus keimanan seorang hamba, sehingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus
hatinya, sehingga lurus lidahnya.”
Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadikan syarat lurusnya iman dengan lurus hati,
kemudaian menjadikan lurusnya hati dengna lurusnya lisan.
Dalam
kitab Sunan at-Tirmidzi, disebutkan suatu riwayatdari Ibnu Umar r.a., Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda:
“Janganlah
memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena banyak bicara selain
dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang-orang yagn terjauh dari Allah
adalah yang berhati keras.”
Umar
bin Khattab r.a. berkata, “barangsiapa banyak bicaranya, maka banyak
kesalahannya, dan orang yang banyak salahnya berarti banyak dosanya, sehingga
nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka.”
Di
dalam suatu hadits dari Mu’adz, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda, “Maukah kamu jika saya katakan kepadamu tentang sendi dari semua
kebaikan itu?” Aku Mu’adz menjawab, “Tentu, ya Rasulullah.” Maka beliau
menunjuk pada lidahnya, seraya berkata, “Jagalah ini!” Aku berkata, : “Ya Nabi
Allah, apakah kami akan memperoleh siksa akibat ucapan kami?” “Betapa celakanya
engkau wahai Mu’adz, bukankah orang-orang yang tersungkur ke dalam neraka itu,
melainkan hasil menabur fitnah melalui lidah-lidah mereka, akhirnya menuai
siksa-Nya?” (HR Tirmidzi dan Hakim)
Makna
dari hadits tersebut ialah, bahwa ada hakikatnya manusia hidup di dunia ini
menaburkan benih-benih kebaikan dan keburukan yang ditimbulkan ucapannya.
Barangsiapa menanam kebaikan, berupa ucapan dan perbuatan, ia pun akan memanen
kemuliaan, dan barang siapa yang menanam kejelekan, maka akan memanen
kekecewaan.
Hadits
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah
menyebutkan :
“Yang
paling banyak memasukkan manusia kedalam neraka adalah memalui dua lubang ;
mulut dan farji (kemaluan).” (HR BUkhari dalam Al-Birru wash-Shilah)
Dalam
sebuah riwayat diseritakan bahwa Uqbah bin ‘Amir berkata kepada Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallallahu Alaihi wa Sallam, “Ya Rasulullah, apakah
keselamatan itu?” Beliau menajwab: “Jagalah lidahmu, luaskanlah rumahmu, dan
menangislah atas kesalahan dan dosa-dosamu.” (HR Bukhari-Muslim)
Selanjutnya
Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa
yang dapat memberikan jaminan kepadaku untuk menjagasesuatu yang berada di
antara kedua dagu (lisannya) dan kedua pahanya (kemaluannya), maka aku akan
menjaminnya masuk surga.” (HR Bukhari)
Dan
sabda Beliau dalam kedua kitab Shahih Bukhari-Muslim:
“Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, hendaknya berkata yang baik atau
diam.” (HR Bukhari)
Dari
Ummu Habibah, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda:
“Semua
ucapan manusia akan memberatinya, tidak meringankan baginya, kecuali amar
ma’ruf nahi munkar dan dzikrullah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR Tirmidzi dan Ibnu
Majah)
Abdullah
bin Mas’ud berkata, “Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, tidak ada sesuatu
yang paling penting untuk dikunci selama-lamanya selain lisanku ini.” Beliau
pun pernah berkata, “Wahai lisanku, katakanlah yang baik, engkau akan
beruntung. Jangan berkata buruk, engkau akan selamat. Ingatlah dan perhatikan
itu, sebelum engkau menyesal.”
Sementara
Ibnu Abbas r.a berkata, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah,
“Sesungguhnya telah sampai keterangan kepadaku, bahwa tiada suatu anggota tubuh
yang lebih memberati manusia di hari kiamat, selain lidahnya, kecuali bagi
orang yang menggunakannya untuk mengatakan yang hak atau mengajarkan yang
baik.”
Imam
Hasan al-Bashri berkata, “Belum memahami agama, orang yang tidak menjaga
lisannya.”
Bahaya
terkecil yang ditimbulkan lidah adalah berkata-kata tentang sesuatu yang tidak
bermanfaat (sia-sia) sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
“Diantara kebaikan agama (Islam) dari seseorang ialah apabila ia mau
meninggalkan apa yagn tidak berguna baginya.” (HR Tirmidzi dan Ahmad)
Dari
Abu ‘Ubaidah meriwayatkan, bahwa Hasan al-Bashri berkata, “Di antara penyebab
berpalingnya Allah dari hamba-Nya yaitu, jika hamba-Nya suka menyibukkan diri
dengan sesuatu yang sia-sia baginya; sebagai penghinaan Allah terhadapnya.”
Itulah
bahaya lisan yang teringan. Bisa kita bayangkan alangkah berbahayanya ghibah,
adu domba, ucapan batil, penghinaan, makian dan sebagainya. Semoga Allah
menolong kita.
Ya
Allah, luruskanlah lisanku….. luruskanlah lisanku…. Luruskanlah lisanku….
Aamiien.
Yang
benar semata karena pertolongan Allah, yang salah semata karena kekhilafan
saya, mohon dimaafkan dan semoga ampunan Allah senantiasa turun atasku.
Assalaamu'alaikum
Wr.Wb
0 komentar:
Posting Komentar