Selasa, 18 Maret 2014

Berkaca untuk diri sendiri ..!!


Bismillaahirrahmaanirrahiim



Jika kau merasa besar, periksa hatimu, mungkin ia sedang bengkak.

Jika kau merasa suci, periksa jiwamu, mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani.

Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu, mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan.

Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu, mungkin itu asap dari amal shalihmu yang hangus dibakar riya'.

Ya Allah, dalam dekapan ukhwah kami memohon lisan yang shiddiq dan hati yang tulus. Aamiin.
[ummul husna]



Assalaamu'alaikum Wr.Wb

Kisah pemuda berIbu-Bapakan babi



Bismillaahirrahmaanirrahiim


Nabi Musa adalah satu-satunya Nabi yang boleh bercakap terus dengan Allah S.W.T Setiap kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa akan naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia akan bercakap dengan Allah.Nabi Musa sering bertanya dan Allah akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi-nabi lain.
Suatu hari Nabi Musa telah bertanya kepada Allah. "Ya Allah, siapakah orang di syurga nanti yang akan berjiran dengan aku?".

Allah pun menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya. Setelah mendapat jawapan, Nabi Musa turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan mengikut tempat yang diberitahu. Setelah beberapa hari di dalam perjalanan akhirnya sampai juga Nabi Musa ke tempat berkenaan.

Dengan pertolongan beberapa orang penduduk di situ, beliau berjaya bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.
Tuan rumah itu tidak melayan Nabi Musa. Dia masuk ke dalam bilik dan melakukan sesuatu di dalam. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu didukungnya dengan cermat. Nabi Musa terkejut melihatnya. "Apa hal ini?, kata Nabi Musa berbisik dalam hatinya penuh kehairanan.

Bai itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu babi itu dilap sampai kering serta dipeluk cium kemudian dihantar semula ke dalam bilik. Tidak lama kemudian dia keluar sekali lagi dengan membawa pula seekor babi jantan yang lebih besar. Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan. Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta cium dengan penuh kasih sayang. Babi itu kemudiannya dihantar semula ke bilik.

Selesai kerjanya barulah dia melayan Nabi Musa. "Wahai saudara! Apa agama kamu?". "Aku agama Tauhid", jawab pemuda itu iaitu agama Islam. "Habis, mengapa kamu membela babi? Kita tidak boleh berbuat begitu." Kata Nabi Musa.

"Wahai tuan hamba", kata pemuda itu. "Sebenarnya kedua babi itu adalah ibubapa kandungku. Oleh kerana mereka telah melakukan dosa yang besar, Allah telah menukarkan rupa mereka menjadi babi yang hodohrupanya. Soal dosa mereka dengan Allah itu soal lain. Itu urusannya dengan Allah. Aku sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajipanku sebagai anak. Hari-hari aku berbakti kepada kedua ibubapaku sepertimana yang tuan hamba lihat tadi. Walaupun rupa mereka sudah menajdi babi, aku tetap melaksanakan tugasku.", sambungnya.

"Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar mereka diampunkan. Aku bermohon supaya Allah menukarkan wajah mereka menjadi manusia yang sebenar, tetapi Allah masih belum memakbulkan lagi.", tambah pemuda itu lagi.
Maka ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s. 'Wahai Musa, inilah orang yang akan berjiran dengan kamu di Syurga nanti, hasil baktinya yang sangat tinggi kepasa kedua ibubapanya. Ibubapanya yang sudah buruk dengan rupa babi pun dia berbakti juga. Oleh itu Kami naikkan maqamnya sebagai anak soleh disisi Kami."

Allah juga berfirman lagi yang bermaksud : "Oleh kerana dia telah berada di maqam anak yang soleh disisi Kami, maka Kami angkat doanya. Tempat kedua ibubapanya yang Kami sediakan di dalam neraka telah Kami pindahkan ke dalam syurga."
Itulah berkat anak yang soleh. Doa anak yang soleh dapat menebus dosa ibubapa yang akan masuk ke dalam neraka pindah ke syurga. Ini juga hendaklah dengan syarat dia berbakti kepada ibubapanya. Walaupun hingga ke peringkat rupa ayah dan ibunya seperti babi. Mudah-mudahan ibubapa kita mendapat tempat yang baik di akhirat kelak.

Walau bagaimana buruk sekali pun perangai kedua ibubapa kita itu bukan urusan kita, urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sebagaimana mereka menjaga kita sewaktu kecil hingga dewasa.

Walau banyak mana sekali pun dosa yang mereka lakukan, itu juga bukan urusan kita, urusan kita ialah meminta ampun kepada Allah S.W.T supaya kedua ibubapa kita diampuni Allah S.W.T.
Doa anak yang soleh akan membantu kedua ibubapanya mendapat tempat yang baik di akhirat, inilah yang dinanti-nantikan oleh para ibubapa di alam kubur.

Erti sayang seorang anak kepada ibu dan bapanya bukan melalui hantaran wang ringgit, tetapi sayang seorang anak pada kedua ibubapanya ialah dengan doanya supaya kedua ibubapanya mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah.
Untuk mengetahui lebih mendalam kisah alam akhirat sila dapatkan buku terbitan syarikat Nurulhas yang berjudul: BILA IZRAIL A.S. DATANG MEMANGGIL



Assalaamu'alaikum Wr. Wb

YA ALLAH... LURUSKANLAH LISAN-ku




Bismillaahirrahmaanirrhiim

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS Ibrahim: 24-25)

“Dan perumpaan kalimat yang buruk itu seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.” (QS Ibrahim: 26)

Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad, dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shllallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Tidak akan lurus keimanan seorang hamba, sehingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus lidahnya.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadikan syarat lurusnya iman dengan lurus hati, kemudaian menjadikan lurusnya hati dengna lurusnya lisan.

Dalam kitab Sunan at-Tirmidzi, disebutkan suatu riwayatdari Ibnu Umar r.a., Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena banyak bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang-orang yagn terjauh dari Allah adalah yang berhati keras.”

Umar bin Khattab r.a. berkata, “barangsiapa banyak bicaranya, maka banyak kesalahannya, dan orang yang banyak salahnya berarti banyak dosanya, sehingga nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka.”

Di dalam suatu hadits dari Mu’adz, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Maukah kamu jika saya katakan kepadamu tentang sendi dari semua kebaikan itu?” Aku Mu’adz menjawab, “Tentu, ya Rasulullah.” Maka beliau menunjuk pada lidahnya, seraya berkata, “Jagalah ini!” Aku berkata, : “Ya Nabi Allah, apakah kami akan memperoleh siksa akibat ucapan kami?” “Betapa celakanya engkau wahai Mu’adz, bukankah orang-orang yang tersungkur ke dalam neraka itu, melainkan hasil menabur fitnah melalui lidah-lidah mereka, akhirnya menuai siksa-Nya?” (HR Tirmidzi dan Hakim)

Makna dari hadits tersebut ialah, bahwa ada hakikatnya manusia hidup di dunia ini menaburkan benih-benih kebaikan dan keburukan yang ditimbulkan ucapannya. Barangsiapa menanam kebaikan, berupa ucapan dan perbuatan, ia pun akan memanen kemuliaan, dan barang siapa yang menanam kejelekan, maka akan memanen kekecewaan.

Hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah menyebutkan :
“Yang paling banyak memasukkan manusia kedalam neraka adalah memalui dua lubang ; mulut dan farji (kemaluan).” (HR BUkhari dalam Al-Birru wash-Shilah)

Dalam sebuah riwayat diseritakan bahwa Uqbah bin ‘Amir berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallallahu Alaihi wa Sallam, “Ya Rasulullah, apakah keselamatan itu?” Beliau menajwab: “Jagalah lidahmu, luaskanlah rumahmu, dan menangislah atas kesalahan dan dosa-dosamu.” (HR Bukhari-Muslim)

Selanjutnya Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa yang dapat memberikan jaminan kepadaku untuk menjagasesuatu yang berada di antara kedua dagu (lisannya) dan kedua pahanya (kemaluannya), maka aku akan menjaminnya masuk surga.” (HR Bukhari)

Dan sabda Beliau dalam kedua kitab Shahih Bukhari-Muslim:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, hendaknya berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari)

Dari Ummu Habibah, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda:
“Semua ucapan manusia akan memberatinya, tidak meringankan baginya, kecuali amar ma’ruf nahi munkar dan dzikrullah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, tidak ada sesuatu yang paling penting untuk dikunci selama-lamanya selain lisanku ini.” Beliau pun pernah berkata, “Wahai lisanku, katakanlah yang baik, engkau akan beruntung. Jangan berkata buruk, engkau akan selamat. Ingatlah dan perhatikan itu, sebelum engkau menyesal.”

Sementara Ibnu Abbas r.a berkata, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah, “Sesungguhnya telah sampai keterangan kepadaku, bahwa tiada suatu anggota tubuh yang lebih memberati manusia di hari kiamat, selain lidahnya, kecuali bagi orang yang menggunakannya untuk mengatakan yang hak atau mengajarkan yang baik.”

Imam Hasan al-Bashri berkata, “Belum memahami agama, orang yang tidak menjaga lisannya.”

Bahaya terkecil yang ditimbulkan lidah adalah berkata-kata tentang sesuatu yang tidak bermanfaat (sia-sia) sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Diantara kebaikan agama (Islam) dari seseorang ialah apabila ia mau meninggalkan apa yagn tidak berguna baginya.” (HR Tirmidzi dan Ahmad)

Dari Abu ‘Ubaidah meriwayatkan, bahwa Hasan al-Bashri berkata, “Di antara penyebab berpalingnya Allah dari hamba-Nya yaitu, jika hamba-Nya suka menyibukkan diri dengan sesuatu yang sia-sia baginya; sebagai penghinaan Allah terhadapnya.”

Itulah bahaya lisan yang teringan. Bisa kita bayangkan alangkah berbahayanya ghibah, adu domba, ucapan batil, penghinaan, makian dan sebagainya. Semoga Allah menolong kita.

Ya Allah, luruskanlah lisanku….. luruskanlah lisanku…. Luruskanlah lisanku…. Aamiien.

Yang benar semata karena pertolongan Allah, yang salah semata karena kekhilafan saya, mohon dimaafkan dan semoga ampunan Allah senantiasa turun atasku.



Assalaamu'alaikum Wr.Wb